Jumat, Mei 01, 2009
Beth Gibbons creates more “human” music with Rustin Man
This is a song called “Mysteries” from Portishead’s vocalist Beth Gibbons solo album with Paul Webb’s (ex-Talk Talk) band called Rustin Man. So the title in this video should be “Mysteries by Beth Gibbons & Rustin Man”. The album itself called “Out Of Season”
Before I listen to this album, I had a feeling that it should be not far from Portishead-kind-of-music, which is gloomy, dark, electrified. At that time me & my friends called Portishead’s-kind-of-music (whatsocalled by Trip-hop) with “Suicidal music”. Well, it’s not true…I guess Paul Webb with Rustin Man succeed to pull Beth Gibbons from Portishead’s gloomy world by adding “human” element on their composition. What I called by human element is they build their music with more conservative instruments, such as electric/acoustic guitar, upright bass, they using lots of real drums instead of drum machine. Anyway they still using loops, sample and synth in their composition but not as much as Portishead does. And it makes their music much more acceptable yet relaxing.
Unlike when she’s with Portishead, with Rustin Man, Beth Gibbons sing her songs with spirit of surrender to ultimate power up there. Listen to this video and you will know what I mean.
Kamis, Februari 26, 2009
Elex Yo Ben Project – Gending Bejad
Grup: Elex Yo Ben
Judul: Gending Bejad
Produser: Dionys Dhewanindra & Rhindra Suspa
Label:
Tahun:
Mendengarkan album Gending Bejad dari duo Elex Yo Ben seperti melakukan perjalanan musikal dengan berbagai kacamata kehidupan dan berbagai pakaian genre dari budaya yang beragam.
Elex Yo Ben yang kalau diartikan dalam bahasa Jawa adalah “Jelek Ya Biarin” ini adalah proyek duet kolaborasi dua orang Sutradara/Director muda yang selama ini terbiasa bekerjasama dalam sejumlah proyek music dan film indie. Mereka adalah Dionys Dhewanindra (Film and Video Director) dan Rhindra Suspa (Music Director). Dan kolaborasi ini menghasilkan sebuah album musik + video yang diberi tajuk Gending Bejad.
Sedikitnya ada dua poin yang saya bisa dapatkan dari album ajaib ini yaitu ekplorasi musikal yang tidak bisa dibilang sederhana dan penangkapan tema untuk lirik yang tidak lazim, sangat fotografik yang membuat liriknya begitu jujur dan bagi sebagian penikmat terdengar lucu walaupun mereka tidak berniat untuk membuatnya menjadi sesuatu yang lucu (setidaknya ini lah yang saya dapatkan ketika ngobrol dengan mereka). Hampir semua lagu-lagu di album ini liriknya diambil dari peristiwa nyata. Coba simak lagu yang berjudul “My Wife Very Dangerous” yang diambil dari peristiwa nyata dimana sepasang suami istri yang tiap pagi berantem karena berebutan WC. Atau lagu yang berjudul “Perempuan Di Batu Nisan” yang diambil ketika Dion sempat tinggal di sebuah kontrakan di tengah kompleks pemakaman yang ternyata jadi tempat mangkal bencong kuburan.
Bila bicara dari sisi musikalitas, nuansa prog metal & death metal menyelimuti hampir seluruh komposisi lagu mereka dengan sentuhan gending Jawa disana-sini plus gaya menyanyi sinden dan growl. Dan satu lagu yang merepresentasikan semua ini adalah lagu yang berdurasi hampir 8 menit yang berjudul sama dengan judul albumnya, “Gending Bejad”. Banyak kejutan-kejutan yang akan kita dapati ketika menyimak lagu-lagu dari album ini. Terutama penggabungan tema-tema fotografis yang langsung di campur dengan komposisi metal. Mungkin ini lah yang membuat banyak media menganggap EYB adalah band parodi. Coba simak lagu yang berjudul “Saat Ku Brutal” dari judulnya dan jenis musiknya kita tidak akan menyangka bahwa liriknya Dion bercerita tentang keinginannya membuat sambal saat ia sedang brutal (marah?), lalu selanjutnya ia memaparkan cara-cara membuat sambal yang membuatnya tidak brutal lagi. Hehehehe…pasti anda mengerti apa yang saya maksud dengan fotografis kan, yaitu pemaparan yang sangat jelas.
Album Gending Bejad dari Elex Yo Ben ini adalah salah satu album yang akhir ini cukup merebut perhatian saya selain album dari The Bad Plus yang berjudul For All I Care (ini nanti saya buatkan juga resensinya). Terutama disebabkan oleh ekplorasi yang dilakukan oleh duo ini yang membuat saya sangat merekomendasikan album ini untuk anda yang menyukai ekplorasi musikal yang tanpa batas.
Mendengarkan sendiri akan bisa menjadi pengalaman yang bisa membuat teman-teman disini memberikan opini terhadap apa yang saya rasakan ketika mendengarkan lagu-lagu mereka ini. Untuk itu silahkan dengar kan tiga buah sample lagu yang diambil dari album Gending Bejad di bawah ini:
Elex Yo Ben
Playlist:
1. Anak Studio
2. Gending Bejad
3. Love Memang Anjrit
4. My Wife Very Dangerous (Live Acoustic)
5. My Wife Very Dangerous
6. Perangkap Rock & Roll
7. Perempuan Di Batu Nisan
8. Remuk Yo Ben
9. Saat Ku Brutal
10. Si Baju Biru (Hikayat Homo Ereczionizt)
11. The Panu Fans Club
Silahkan kunjungi blog mereka yang ada di http://elexyoben.wordpress.com/ dan juga Myspace mereka yang ada di: http://www.myspace.com/elexyoben
Jumat, Februari 20, 2009
Sampak GusUran Poem Orchestra
Jumat, Januari 23, 2009
Here Comes The Flood
This song originally compose & sing by Peter Gabriel. But this musician/singer captured the mood of this song and turn it into one beautiful piece of clip. Below is the original one performed by Peter Gabriel himself…
Ok, now we will sing together…:-) Please find this song’s lyric below then sing
Here Comes The Flood
When the night shows
the signals grow on radios
All the strange things
they come and go, as early warnings
Stranded starfish have no place to hide
still waiting for the swollen Easter tide
There’s no point in direction we cannot
even choose a side.
I took the old track
the hollow shoulder, across the waters
On the tall cliffs
they were getting older, sons and daughters
The jaded underworld was riding high
Waves of steel hurled metal at the sky
and as the nail sunk in the cloud, the rain
was warm and soaked the crowd.
Lord, here comes the flood
We’ll say goodbye to flesh and blood
If again the seas are silent
in any still alive
It’ll be those who gave their island to survive
Drink up, dreamers, you’re running dry.
When the flood calls
You have no home, you have no walls
In the thunder crash
You’re a thousand minds, within a flash
Don’t be afraid to cry at what you see
The actors gone, there’s only you and me
And if we break before the dawn, they’ll
use up what we used to be.
Lord, here comes the flood
We’ll say goodbye to flesh and blood
If again the seas are silent
in any still alive
It’ll be those who gave their island to survive
Drink up, dreamers, you’re running dry.
[Repeat chorus once]
Minggu, Desember 07, 2008
Musikalisasi Puisi "Angin Pun Berbisik"
Pada hari Jumat tanggal 21 November 2008, saya datang ke sebuah kedai kecil yang biasa disebut "angkringan" di bilangan Kebayoran Baru. Saya datang memenuhi undangan seorang teman untuk ngobrol-ngobrol, lalu tidak lama kemudian muncul dua orang sahabat saya, duo Endah N Rhesa yang kebetulan juga datang memenuhi undangan meeting di kedai yang sama. Mereka memberikan sebuah CD Musikalisasi Puisi "Angin Pun Berbisik" yang beberapa saat lalu saya dengar memang sedang digarap oleh mereka. Karena kesibukan saya, seminggu kemudian saya baru bisa mendengarkan lagu-lagu pada CD tersebut secara utuh. Dan ini lah yang saya dapatkan:
Lagu pertama adalah lagu yang berjudul "Kali Ini Saja" yang liriknya dibuat oleh penyair Zeffa Yurihana. Lagunya sendiri dibawakan secara apik oleh seorang gitaris, komposer muda yang bernama Andre Harihandoyo. Sesuai dengan gaya bermusik Andre yang berkiblat pada musik blues, maka larik-larik puisi dari Zeffa langsung diinterpretasikan ulang oleh petikan-petikan nada blues dari gitar akustik Andre dengan sangat ekspresif dan jernih. Puisinya saja menurut saya sudah "blues" sehingga begitu Andre mendandani "Kali Ini Saja" dengan kord-kord blues maka jadilah lagu tersebut sebuah komposisi blues lengkap yang asik.
Duo Endah N Rhesa yang berperan sebagai salah satu penggagas proyek album ini mendapat kesempatan kedua dalam album ini walaupun mereka hampir ikut serta di proses pembuatan semua lagu pada album ini, tapi lagu kedua pada album ini lah yang mereka berdua ciptakan. Puisi karya penyair Zeffa Yurihana yang berjudul "Pasar" langsung berubah menjadi sebuah selimut hangat di malam yang dingin atau segelas teh es manis di sore yang panas ketika di gubah menjadi sebuah komposisi lagu yang asik dan menghanyutkan. Seperti biasa Endah N Rhesa memainkan lagu ini dengan aransemen khas akustik mereka. Denting gitar Endah disertai olah vokalnya yang tipis diiringi petikan bass Rhesa plus kord-kord bernuansa jazz melengkapi kenyamanan yang didapat pada saat mendengarkan lagu ini.
"Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum"
Itu potongan lirik yang diambil dari "Pasar". Lucu, witty, plus harmonisasi backing vokal yang sangat soothing.
Pengembaraan musik dalam lirik-lirik puitik belum selesai karena lagu selanjutnya membawa kita pada suasana perjalanan. Kok perjalanan? Simak lagu yang berjudul Jakarta yang didasari oleh puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul "Jakarta" dan dibawakan secara apik oleh Christian (Tiket). Komposisi yang diciptakan oleh Christian dan lalu di aransir oleh Rhesa Aditya ini seolah membawa kita seolah sedang melakukan perjalanan. Walaupun isi dari puisi yang mendasari lagu ini adalah mengenai kekecewaan terhadap kota Jakarta yang membuat si penyair merasa kecewa dan perlu meninggalkan Jakarta, tapi aransemen yang dibuat oleh Rhesa menciptakan ambience yang justru positif dan optimis. Simak potongan lirik/puisi lagu "Jakarta" dibawah ini:
"Kutinggalkan engkau
Sebab
Langitmu tak lagi biru
Diaduk asap dan debu
Aku sudah tak punya waktu
Untuk menunggu"
Nah anda akan mendapatkan kesan lain jika anda mendengarkan lagunya...:-)
Cinta & kerinduan adalah tema klasik yang tak pernah mati dimakan jaman. Tema ini lah yang paling banyak dipakai pada puisi maupun lirik lagu. Ekspresi kerinduan pada puisi pada puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul "Ku Ingin" ini diinterpretasikan ulang dalam bentuk lagu oleh grup yang menamakan diri mereka sebagai Drew. Masih didominasi oleh riff gitar akustik yang ditingkahi oleh snare drum yang diketuk oleh brush stick plus bass gitar fretless yang dimaininkan oleh Rhesa Aditya, membuat lagu yang bersahaja ini jadi punya nyawa yang kuat. Lagu ini punya potensi untuk jadi idola di pasar.
Setiap seniman yang utuh dalam bentuk apapun ia akan selalu punya ciri dalam berkarya. Saya pikir statement ini bisa dilihat pada karya-karya musikalisasi puisi dalam album ini. Salah satu contoh yang kuat selain lagu "Pasar" gubahan Endah N Rhesa adalah lagu yang berjudul "Cemburu" yang didasari oleh puisi karya Irwan Dwi Kustanto yang pencipta dan arranger lagunya adalah Anindyo Baskoro atau lebih dikenal dengan Nino RAN. Ya, ia adalah salah satu personil trio yang sedang naik daun pada saat ini, RAN. Menyambung statement diawal paragraf diatas, kita tentunya tau bagaimana lagu-lagu dari RAN, dan pada lagu yang diciptakan oleh Nino berdasarkan puisinya Irwan ini, ciri RAN tersebut tidak hilang tapi bermetamorfosis dalam bentuk yang jauh lebih bersahaja, dengan balutan musik akustik ala Maxwell yang membuat para pendengar seperti saya merinding mendengarnya. Tentunya peran Raisa, yang bernyanyi bersama Nino tidak mengurangi keindahan lagu ini. Sangat menenangkan, walaupun sebenarnya liriknya menyiratkan kegundahan yang kental.
Pada lagu berikutnya yang berjudul "Luka Seorang lelaki" yang diambil dari puisi berjudul sama milik Irwan Dwi Kustanto. Saya mendengar nafas folk yang muncul pada duet Dody-Riqo dimana mereka juga betindak sebagai arranger dan pencipta lagunya. Gaya bermain gitar dan karakter vokal duo ini yang saya pikir membawa nafas folk yang bukan berarti lagu ini kekurangan nilai estetisnya tapi malah jadi kekuatan sinergi yang lumayan kuat.
Lagu "Sepi" yang diciptakan oleh Endah N Rhesa berdasarkan puisi karya Siti Atmamiah membawa kita ke lorong-lorong sunyi. Illustrasi pembacaan puisi oleh Maudy Koesnaedi dengan latar belakang suara enharmonik dari bass Rhesa terasa sangat dalam. Saya seolah sedang menonton sebuah trailer film yang bercerita tentang kesepian yang mendalam ketika mendengarkan lagu ini, dan saya yakin andapun demikian.
Cornelia Agatha....aktris yang sudah kita kenal berhasil membacakan puisi dengan sangat baik. Adalah puisi milik Irwan Dwi Kustanto yang berjudul "Angin Pun Berbisik" yang ia bawakan dengan penghayatan yang saya mesti acungkan jempol. Peranan Yessi Kristianto & Rhesa Aditya sebagai arranger pun punya andil yang cukup baik. Intro yang kuat lalu mulai masuk ke background ketika Lia mulai membaca puisi membuat ekspresi Lia ketika membacakan puisi jadi semakin kuat.
Lagu "Angin" yang dibawakan oleh Jodhy Yudono yang didasari oleh puisi karya Zeffa Yurihana juga dibawakan dengan gaya folk dari perspektif yang berbeda dibandingkan dengan duo Dody-Riqo. Judhy yang memainkan gitar diiringi oleh Choirul Alhuda yang memainkan violin & viola membawa kita ke suasana alam nan bersahaja. Jangan lupa oleh pembacaan puisi oleh si kecil Yoga Sukma Khalid Nan Agung yang diselipkan pada tengah lagu. Sangat syahdu dan bersahaja.
Album Musikalisasi "Angin Pun Berbisik" ini bisa saya kategorikan sebagai salah satu musikalisasi puisi yang berhasil memadukan dua ranah seni ini menjadi satu kesatuan yang cantik. Dahulu saya sempat terperangah ketika duo Ari & Reda membuat musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, nah kali ini kembali saya terperangah ketika mendengarkan album musikalisasi puisi ini. Terima kasih buat semua yang terlibat yang membuat puisi-puisi dalam album ini jadi bisa didengarkan oleh semua orang termasuk saya.
Cerita di balik album ini pun tak kalah menarik dan menyentuh kalau boleh saya bilang demikian. Dari mulai puisi-puisi yang dihadirkan adalah puisi pilihan dari buku antalogi puisi “ANGIN PUN BERBISIK”. Karya Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah dan Zeffa. Pak Irwan adalah seorang tuna netra, sedangkan Ibu Siti dan Zeffa adalah istri dan anaknya yang bermata awas sampai dengan tekad menyumbangkan hasil penjualan seluruh CD ini pada 100% pada Yayasan Mitra Netra sebagai pendanaan buku Braille untuk tuna netra.
CD musikalisasi puisi dapat Anda pesan melalui : Yayasan Mitra Netra (021-7651386) (www.mitranetra.or.id) dan HP nya Endah N Rhesa 08161443431 atau email di endahwidiastuti@yahoo.com
Well, jadi bila kita membeli CD ini selain kita mendapatkan lagu-lagu yang bagus, kitapun beramal.
Jumat, Februari 15, 2008
Suzanne Vega - Beauty & Crime

JUDUL ALBUM: BEAUTY & CRIME
ARTIST: SUZANNE VEGA
LABEL: BLUE NOTE RECORDS
TAHUN: 2007
PRODUSER: JIMMY HOGARTH
Sesuatu yang menarik jika mencermati karya dari singer/songwriter adalah sebuah karya yang kuat dalam ekspresi, terlebih menyeruakkan elemen personal, dan penuh tutur. Musiknya pun tak perlu cerlang cemerlang. Sesuatu yang minimalis kadang lebih maknawi. Ini pula yang masih bisa kita simak setelah mendengarkan album terbaru Suzanne Vega, yang mulai dikenal luas ketika mendendangkan “Luka” di paruh 80-an termasuk pula “Tom’s Diner” yang bercorak a capella.
Walaupun lama tak menggelontorkan karya, ternyata malah menjadikan album Suzanne Vega ini menjadi semacam penawar rindu dengan tema kemanusiaan yang kuat. Setidaknya, di album ini, keperihan akibat serangan teroris di Amerika Serikat pada 11 September masih menggenang seperti pada lagu “Angel’s Doorway”.
Suzanne Vega pun menuliskan lagu tentang tokoh tokoh heroiknya dalam beberapa lagu , seperti pada lagu “Edith Wharton Figurines” yang bercerita tentang novelis Edith Wharton :
See the portrait come to life
See the vanity behind
Cause in the struggle for survival
Love is never blind
Now, olivia lies under anasthesia
Her wit and wonder snuffed
In a routine operation
Her own beauty not enough,
Bahkan Suzanne Vega pun meretas pasangan selebritis yang banyak mengilhami karirnya seperti Frank Sinatra dan Ava Gardner dalam lagu “Frank and Ava” :
He’s so true. she is too. she says
I love you Frank and then they drank
All night. what a fight.
He says it isn’t me you’re thinking of
She’s cool. it makes him cruel
And they needle till the jewels
Go raining down upon the ground
She says its not enough to be in love
Musik yang mengiringi Suzanne Vega memang diniatkan lebih friendly mulai dari folk yang akustik, juga terasa citarasa bossanova.
Di album ini Suzanne Vega dibantu pencabik bass dari atti Smith Group yaitu Tony Shanahan, Martin Slattery pada piano, reeds dan brass section, Graham Hawthorne pada drums, Gerry Leonard pada gitar, Will Malonne pada arransemen orkestra serta produser Jimmy Hogarth yang juga memainkan gitar dan perkusi.
Suzanne Vega disini masih terampil memainkan emosi pendengar lewat terang-redupnya aransemen musik, tanpa membuat kuping penyimaknya seolah tersiksa. Di akhir album Suzanne Vega dengan balutan gitar akustik mencoba menapak tilasi kejadian traumatik bangsa Amerika “11 September” dalam lagu bertajuk “Anniversary” :
Mark the month and all its anniversaries
Put away the draft of all your eulogies
Clear the way for all your private memories
As they meet you on each corner
Meet you on every street.
Make the time for all your possibilities.
They live on every street.
TRACKLIST
1. ZEPHYR & I
2. LUDLOW STREET
3. NEW YORK IS A WOMAN
4. PORNOGRAPHER’S DREAM
5. FRANK & AVA
6. EDITH WHARTON’S FIGURINES
7. BOUND
8. UNBOUND
9. AS YOU ARE NOW
10. ANGEL’S DOORWAY
11. ANNIVERSARY
DENNY SAKRIE
0818417357
Vox - Pada Awalnya

JUDUL ALBUM: PADA AWALNYA
ARTIS: VOX
LABEL: AKSARA RECORDS
TAHUN: 2007
PRODUSER: DAVID TARIGAN & JOSEPH SUDIRO
Haa……? Saya beberapa kali mengusap kuping saya seolah tak percaya ketika menyimak track pertama dari album debut grup Vox asal Surabaya bertajuk “Pada Awalnya”.Dari intro yang diawali ketukan drum,lalu gitar telah membawa saya ke sebuah era masa lampau……tepatnya 60-an. Ya betul apalagi intro lagu ini betul-betul memorable yaitu “Wouldn’t It Be Nice” The Beach Boys dari album masterpiece-nya “Pet Sounds”.
Hmmmm…….kemanakah citarasa musik yang akan dibawa kelompok yang digawangi Josep Sudiro (bas,vokal), Donnie Setiohandono (piano, Rhodes, Harmmond, vokal), Vega Antares Setianegra (gitar elektrik, akustik, vokal) dan Gabriel Mayo Riberu (drums, vokal) ini?. Tampaknya mereka tengah silau dengan wabah musik pop era 60-an yang kadung disebut “sunshine pop” atau “power pop” dan lain sebagainya. Musik Beat memang tengah melanda dunia. Beach Boys sendiri mengaku terpengaruh The Beatles. Dan Vox bahkan mencoba menyelusupkan pula arwah The Beatles dalam komposisi lagunya yang berjumlah 11.
Keempat pemusik Vox memang punya tugas berat. Karena mereka pun menyanyi. Harus membagi harmoni vokal yang telah ditata Donnie Setiohandono.
Pada lagu “Oh Well” dengan cerdik Vox kembali menyulam aura lagu “God Only Knows” nya The Beach Boys. Permainan slide gitar Vega di lagu ini justeru mengingatkan kita pada karakteristik George Harrison dari The Beatles. Lalu di bagian koda pendengar diberi ilusi seolah terjebak deja vu aura “All You Need Is Love” nya The Beatles dengan tumpukan bebunyian brass section yang dimainkan Indra Aziz, Ijo dan Teguh. Dan mendadak kita pun bisa mengingat aura Paul McCartney pada lagu “My Baby Blue”. Apalagi ditambah arransemen brass section yang dibuat Ramondo Gascaro dari grup Sore yang mau gak mau mengingatkan saya pada “Getting Better” The Beatles (Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band). Atmosfer serupa pun tersimak pada lagu “Menjadi Dewasa” dan “Apapun Itu”.
Vox tampaknya berupaya keras pula untuk membuat lirik yang tak dangkal.Sepintas mereka lebih banyak menomosatukan ekspresi.Liriknya singkat tapi padat makna.
Simak ketika vox bercerita tentang persahabatan dalam lagu “Ingatkah Pertama” :
Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali
Ingatkah pertama kau menyerah
Hingga saat terakhir kau hembuskan nafas
Dan simak bagaimana vox mengungkapkan kota kelahirannya Surabaya dalam “Surabaya # 1″
walkin’ down the river, walkin’ down the river
I was born when the moon was gone
kissed the sky of Surabaya’s sunshine
I got my blues right below my shoes
it just the life that I cannot choose
I rest my soul in the rock and roll
I am the son of our traffic sounds
Jika jenuh dengan berkelebatnya band-band yang tipikal belakangan ini, Vox layak disimak.
TRACKLIST
1. PADA AWALNYA
2. GOING DOWN
3. OH WELL
4. MY BABY BLUE
5. AK.SA.RA.
6. PAGI
7. INGATKAH PERTAMA
8. MENJADI DEWASA
9. APAPUN ITU
10. DEAR LORD
11. SURABAYA # 1
DENNY SAKRIE
0818417357
Ozzy Osbourne - Black Rain

JUDUL ALBUM: BLACK RAIN
ARTIS: OZZY OSBOURNE
LABEL: EPIC
TAHUN: 2007
PRODUSER: KEVIN CHURKO
Sang Pangeran dari Kegelapan datang lagi lewat album teranyarnya “Black Rain”. Ini merupakan album solo Ozzy yang ke 9. Masih ada gitaris Zakk Wylde dengan kapak nya.Tapi apakah keduanya masih menyimpan kesaktian metal mandraguna ?. Hmmm……secara keseluruhan album ini memang terasa lembek dibanding persona Ozzy Osbourne yang telah dikhatami para penggemarnya sejak era Black Sabbath maupun era solonya sejak dasawarsa 80-an yang berlumur keras dan pekat. Jika sudah begini, biasanya sumpah serapah pun menyembur. Kambing hitam pun dicari cari.
Apakah bijaksana menghukum Kevin Churko sebagai produser yang membuat image dan sosok Ozzy jadi sedemikian kuyu ? Lalu siapakah Kevin Churko ini ? Well, dia ini memiliki curriculum vitae yang jamak untuk sederet produksi musik pop, mulai dari Michael Bolton, Britney Spears (Ooops !), Shania Twain hingga Celine Dion dengan kapasitas sebagai penata suara,editor hingga produser.Sebetulnya Mr Churko ini pernah pula menangani album “Undercover” nya Ozzy Osbourne. Walhasil yang terekam dalam album ini adalah sosok Ozzy Osbourne dalam tayangan reality shownya “The Osbourne” yang bercitarasa kekeluargaan.
Kekhawatiran bergesernya citra Osbourne memang mulai ditelisik ketika Ozzy berduet dengan Kelly puterinya lewat ballada klasik-nya Black Sabbath “Changes” atau ketika mengcover disko klasiknya Bee Gees “Staying Alive” dalam boxset “Prince Of Darkness” (Epic,2005). Namun Ozzy toh masih menyisakan kejayaan masa lalu lewat lagu “Black Rain” yang liriknya mengingatkan kita pada kegundahan dan kegeraman Ozzy terhadap perang pada lagu “War Pig”. Simak lirik “Black Rain” ini :
War, killing sons and daughters,
Another failed attack, there is no turning back.
Blood, running down like water.
You’ll think you got away,
Until the judgment day comes.
Rasanya kita harus menyilangkan dada jika Ozzy Osbourne di album ini kemampuan vokalnya pun telah menurun. Ingat dia kini berusia 60 tahun! . Tapi atmosfer kedigdayaannya masih terasa dalam kunci yang rendah dibanding dahulu. Mungkin kini lagu seperti “Here For You” sudah bisa kita simak bersama anak isteri di ruang tamu atau saat berkendara bersama keluarga :
I remember all the good times…
somtimes I’d wonder would it last
I used to dream about the future.
But now the future is the past.
I don’t wanna live in yesterday,
Cross my heart until I die
Don’t wanna know just what tomorrow may bring,
Because today has just begun,
No matter whatever else I’ve done
I’m here for you
I’m here for you.
TRACK LIST
1. NOT GOING AWAY
2. I DON’T WANNA STOP
3. BLACK RAIN
4. LAY YOUR WORLD ON ME
5. THE ALMIGHTY DOLLAR
6. 11 SILVER
7. CIVILIZE THE UNIVERSE
8. HERE FOR YOU
9. COUNTDOWN’S BEGUN
10. TRAP DOOR
DENNY SAKRIE
0818417357
Sinead O’Connor - Theology

JUDUL ALBUM: THEOLOGY
ARTIST: SINEAD O’CONNOR
LABEL: RUBY WORKS
TAHUN: 2007
PRODUSER: SINEAD O’CONNOR
Masih ingat Sinead O’Connor ? Penyanyi wanita dengan estetika bermusik yang kualifaid. Dan, disini khalayak mungkin hanya mengingat sosok Sinead O’Connor lewat “Nothing Compares 2 U” yang ditulis Prince.
Jika menyimak album terbarunya,saya rasa anda pun setuju jika kita menyebut album ini adalah bentuk pergeseran sikap dari Sinead O’Connor yang kita merengkuh ke ruang yang steril: religius. Jadi tak heran jika Sinead O’Connor menyematkan “Theology” sebagai tajuk albumnya.
Di albumnya ini Sinead O’Connor memilah dua karya-karyanya dalam dua keping cakram padat. Di albumnya ini sepertinya Sinead O’Connor ingin lebih mengedepankan atmosfer. Album ini mengetengahkan 11 lagu (yang terdiri atas lagu orisinal dan cover versions) dalam dua atmosfer: akustik dan band.
Pada cakram padat yang pertama terdiri atas 11 lagu dan direkam di Dublin Irlandia,kota kelahiran O’Connor.Makanya bagian ini disebut “Dublin Sessions”. Disini Sinead O’Connor hadir dalam konsep musik akustik dan minimalis. Sinead bernyanyi sambil memetik gitar bersama Steve Cooney yang juga memetik gitar akustik. Di bagian ini Sinead O’Connor terdengar tampil lebih personal dan ekspresif. Simaklah vokal Sinead yang terdengar hanya seolah berbisik lirih dalam “Whomsoever Dwells”. Dan secara mencengangkan O’Connor memihak pada ritme walza di lagu “If You Had A Vineyard”. Terasa segar dengan notasi yang mampu menggelitik kuping khalayak.
Simak pula tafsir ulang Sinead O’Connor pada lagu spritual soul Curtis Mayfield ” We People Who Darker Than Blue” yang terasa mengiris dengan aksentuasi gitar akustik. Tapi pada versi band, O’Connor tak lupa menyelusupkan kocokan gitar dengan menggunakan pedal “wah wah”. Lagu ini secara tak sadar menggiring imajinasi kita pada komunitas kaum kulit hitam yang “didera” sengsara berkepanjangan.
Aura Nasrani memang sangat terasa di albumnya ini,apalagi jika anda menyimak “getaran” suara Sinead O’Connor yang seolah penjelmaan Maria Magdalena dalam lagu “I Don’t Know How To Love Him” dari opera rock “Jesus Christ Superstars” karya fenomenal pasangan komposer Andrew Llyod Weber dan Tim Rice di tahun 1970. Dalam versi band yang melumerkan beat reggae, O’Connor tetap tak kehilangan daya tafsirnya. Dia bisa mengubah imaji yang selama ini ditatah Yvonne Elliman maupun Sarah Brightman:
I don’t know how to love him.
What to do, how to move him.
I’ve been changed, yes really changed.
In these past few days, when I’ve seen myself,
I seem like someone else.
I don’t know how to take this.
I don’t see why he moves me.
He’s a man. He’s just a man.
And I’ve had so many men before,
In very many ways,
He’s just one more.
Should I bring him down?
Should I scream and shout?
Should I speak of love,
Sinead O’Connor bersama mitranya Tomlinson pun menulis sederet lagu yang memiliki kedalaman dalam konteks spiritual semisal lagu “The Glory of Jah” atau pun “Dark I am Yet Lovely”.
Dan pada ending setiap cakram padatnya, Sinead O’Connors memilih lagu tradisional “Rivers Of Babylon” (yang dulu sempat ngetop disini lewat kelompok disko asal Jerman Boney M).
Lengkap sudah nuansa keimanan yang ditorehkan Sinead O’Connor.
TRACKLIST
CD 1
1. Something Beautiful
2. We People Who Darker Than Blue
3. Out Of The Depths
4. If You Had A Vineyard
5. Dark I am Yet Lovely
6. Watcher of Men
7. 33
8. The Glory Of Jah
9. Whomsoever Dwells
10. Rivers Of Babylon
11. Hosana Filio David
CD 2
1. Something Beautiful
2. We People Who darker Than Blue
3. Out Of Depths
4. If You Had A Vineyard
5. Dark I am Yet Lovely
6. Watcher of Men
7. 33
8. The Glory Of Jah
9. Whomsoever Dwells
10. Rivers Of Babylon
DENNY SAKRIE
0818417357
Dave Matthews & Tim Reynolds - Live At Radio City Music Hall

JUDUL ALBUM: LIVE AT RADIO CITY MUSIC HALL
ARTIST: DAVE MATTHEWS & TIM REYNOLDS
LABEL: RCA
TAHUN: 2007
PRODUSER: DAVE MATTHEWS
Inilah album live bernuansa Americana yang dimainkan pasangan Dave Matthews, musisi kelahiran Johannesburg Afrika Selatan dan gitaris underrated kelahiran Jerman Tim Reynolds. Keduanya memang sudah sejak lama terlibat dalam kerjasama musikal. Reynold sering membantu album dan tur konser Dave Matthews Band. Sebelum merilis album “Live At Radio City Music Hall”, baik Matthews dan Reynold pernah melakukan hal serupa dalam album “Live At Luther College” di tahun 1999. Yang menarik, keduanya adalah multi-instrumentalis yang mumpuni.
Dibuka dengan akustik blues bertajuk “Bartender” dalam durasi mendekati 8 menitan. Matthews meradang. Reynold tak kalah sigap memberi tekstur. Blues sebagai sebuah ritual kenikmatan pun menggerayangi kuping pendengar.
Baik Matthews maupun Reynold memang telah menjadi senyawa. Jelas terdengar, mereka saling isi, saling menyeruak tanpa kecanggungan. Lepas dan cerdas.
Kitapun seolah mendapat versi segar dari Down By The River-nya Neil Young. Tafsir ulang yang dilakukan Matthews dan Reynold mengingatkan saya pada tafsir ulang Buddy Miles terhadap lagu yang sama tapi dengan aura soul R&B. Simaklah petikan Reynolds menjelang coda pada lagu ini yang seolah menuntun pendengarnya ke area lepas gravitasi.
Yeah, she could drag me over the rainbow,
send me away
Down by the river
I shot my baby
Down by the river,
Dead, oh, shot her dead.
Juga simak adaptasi yang cerkas pada lagu folk legendaris milik Woody Guthrie “This Land Is Your Land”. Atmosfer Americana yang memayungi blues, folk, jazz, Cajun, country jelas tertuang kuat di sebagian isi album yang direkam pada saat pertunjukan keduanya di Radio Music City Hall pada tanggal 22 April 2007.
Matthews dan Reynold memang berhasil membuat arransemen yang pas buat format 2 gitar akustik dan menggantikan fungsi band.
Lagu “Dancing Nancies” dari album “Under The Table and Dreaming” (Dave Matthews Band 1994) yang berdurasi lebih dari 9 menit dan bertempo upbeat mereka mainkan dengan sempurna, dengan spirit rock yang tajam. Lagu ini memang adalah lagu wajib yang sering mereka mainkan dalam konser-konsernya selama ini termasuk dalam album “Live At Luther College” (1999) maupun album “Central Park Concer” (2003). Bagi penggila Jam Band, lagu ini memang merupakan oase yang memupuskan dahaga.
Album yang dikemas dalam 2 cakram padat dengan 26 lagu ini memang pantas anda simak.
TRACKLIST
- Bartender [live] Matthews 8:28 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- When the World Ends [live] Ballard, Matthews 4:13 Composed by: Ballard, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Stay or Leave [live] Matthews 4:09 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Save Me [live] Matthews 4:41 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Crush [live] Matthews 7:54 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- So Damn Lucky [live] Harris, Matthews 6:51 Composed by: Harris, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Gravedigger [live] Matthews 4:19 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- The Maker [live] Lanois 5:16 Composed by: Lanois Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Old Dirt Hill (Bring That Beat Back) [live] Batson, Matthews 5:49 Composed by: Batson, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Eh Hee [live] Matthews 5:00 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Betrayal [live] Reynolds 5:31 Composed by: Reynolds Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Out of My Hands [live] Batson, Matthews 5:23 Composed by: Batson, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Still Water [live] Lanois 2:21 Composed by: Lanois Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Don’t Drink the Water/This Land Is Your Land [live] Guthrie, Matthews 6:09 Composed by: Guthrie, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Oh [live] Matthews 5:07 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Cornbread [live] Batson, Matthews 4:36 Composed by: Batson, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Crash into Me [live] George, Kibbee, Matthews 6:05 Composed by: George, Kibbee, Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Down the River [live] Young 5:45 Composed by: Young Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- You Are My Sanity [live] Reynolds 5:58 Composed by: Reynolds Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Sister [live] Matthews 3:44 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Lie in Our Graves [live] Matthews 8:53 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Some Devil [live] Matthews 5:11 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Grace Is Gone [live] Matthews 4:12 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Dancing Nancies [live] Matthews 9:03 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- #41 [live] Matthews 5:48 Composed by: Matthews Performed by: Matthews, Tim Reynolds
- Two Step [live] Matthews 6:29 Composed by: Matthews Performed Matthews, Tim Reynolds
DENNY SAKRIE
0818417357
The Bad Plus - Prog

JUDUL ALBUM : PROG
ARTIST : THE BAD PLUS
LABEL : HEADS UP
TAHUN : 2007
PRODUSER : TONY PLATT
Bahwa pada akhirnya musik adalah musik.Tak ada lagi pagar berupa genre.Bebas sekat.Bisa lompat sana lompat sini.Setidaknya itulah impresi yang mencuat tatkala menyimak sajian musik dari trio jazz bernama THE BAD PLUS yang pertamakali merilis album pada tahun 2003.
Ini merupakan albumnya yang keempat,dan album pertama setelah keluar dari Sony Music/Columbia setahun silam.
The Bad Plus yang terdiri atas Reid Anderson (bass),Ethan Iverson (piano) dan David King (Drum) kembali menyuguhkan sajian jazz yang menggelinjang. Visi kebebasan tetap merasuk disegenap repertoar albumnya ini.
Jika ingin membayangkan seperti apa musik yang dipentang The Bad Plus, maka mungkin gambarannya adalah sebuah kemempelaian antara atmosfer post-rock dan post-bop.
Dan mungkin sudah menjadi pakem atau tradisi dari trio ini,bahwa dalam setiap album yang mereka rilis senantiasa ada upaya mere-make repertoar yang telah terlanjur dikenal khalayak sejagad.
Pada album perdana “These Are The Vistas” (2003) The Bad Plus menggerayangi arransemen lagu dari era grunge “Smells Like Teen Spirit” nya Nirvana, lalu mengganti baju “Heart Of Glass” nya Blondie hingga lagu “Flim” nya Aphex Twin. Lalu di album ke 2 bertajuk “Give” (2004). The Bad Plus dengan cerdik tanpa harus memupus esensi lagu, mendandani lagu “Iron Man” nya Black Sabbath.
Kemudian pada album “Suspicious Activity” (2005),The Bad Plus menampilkan aura baru bagi “Chariots Of Fire” nya Vangelis yang kadung dikenal sebagai karya instrumental berbasis synthesizers.
Nah,di album terbarunya bertajuk “Prog”, The Bad Plus kembali menghadirkan surprising dengan merekonstruksi hits era synth-pop nya Tears For Fears di dasawarsa 80-an “Everybody’s Want Rules The World” dalam nuansa yang lebih rileks dan laid-back. Struktur melodi yang asli masih bisa kita telusuri. Tentunya berbeda misalnya dengan trio jazz lainnya Medeski Martin & Wood yang hanya mengambil secuplik melodi asli “Julia” (The Beatles) untuk kemudian dikembangkan secara tekstural yang mengakibatkan pendengar justeru terbingung-bingung menelisik melodi originalnya.
Anda pasti akan terkejut, jika menyimak lagu “Tom Sawyer”nya Rush juga dibawakan oleh trio jazz yang gemblung ini. Spirit lagu ini tetap memancar. Pembeda justeru pada doktrinasi instrumen piano. Dan sebuah interpretasi rada hiperbolik tertuang pada lagu milik David Bowie “Life On Mars”.
The Bad Plus pun tangkas berolah dinamika dalam lagu-lagu yang mereka tulis sendiri semisal “The World Is The Same” hingga “Giant” yang sangat extraordinary. Ditangan trio Bad Plus, jazz menjadi kian cerlang cemerlang dan kian progresif.
TRACKLIST
1. EVERYBODY WANTS TO RULES THE WORLD
2. PHYSICAL CITES
3. LIFE ON MARS
4. MINT
5. GIANT
6. THRIFSTORE JEWELRY
7. TOM SAWYER
8. THIS GUY’S IN LOVE WITH YOU
9. THE WORLD IS THE SAME
10. 1980 WORLD CHAMPION
DENNY SAKRIE
0818417357
Rabu, Januari 17, 2007
Stereomantic - Stereomantic

JUDUL ALBUM: STEREOMANTIC
ARTIS: STEREOMANTIC
LABEL: AKSARA RECORDS
TAHUN: 2006
PRODUSER: STEREOMANTIC
Ini duo baru dengan basic music electronic dan warna vokal yang rada retro. Namanya Stereomantic yang konon merupakan gabungan dua kata "stereo" dan "romantic". Jika menyimak keseluruhan isi album memang nuansa romantik menyelubungi permukaan lagu yang beat-nya danceable.
Adalah Aroel mantan gitaris Planetbumi yang menangani departemen musiknya.Aroel yang bertanggung jawab pada tata aransemen musik yang berkiblat pada genre "electronic". Maria yang dahulu pernah beretro-ria dengan grup Klarinet memang daya pikat utama Stereomantic selain berperan sebagai penulis sebahagian besar lirik lagu di album ini.
Duo elektronik semacam ini memang mengingatkan kita pada era synth-pop atau new wave or wathever di era 80-an. Misalnya seperti Eurythmics, Pet Shop Boys, Erasure,
TRACKLIST
1. INTRO
2. LET'S DISCO
3. TAKUT
4. HINGGA KU TIADA
5. I CAN'T MARRY YOU
6. TAK PERNAH ADA
7. LAGU MERINDU
8. BIARKAN KAMI BERSAMA
9. (JUST WANNA BE) THE NEXT RISING STAR
10. DUNIA MAYA
11. YOU
Denny Sakrie
0818417357
Selasa, Januari 16, 2007
The Manhattan Transfer - The Symphony Session

JUDUL ALBUM: THE SYMPHONY SESSIONS
ARTIS: THE MANHATTAN TRANSFERS
LABEL: RHINO RECORDS
TAHUN: 2006
PRODUSER: TIM HAUSER
Bayangkan 4 warna suara masing-masing dua suara wanita dan dua suara pria diiringi satu kekuatan orkestra,berpadu jadi satu. Itulah kuartet vokal The Manhattan Transfer yang berbaur secara simfonik dengan Orkestra asal Praha .
Sederet repertoar standar dibawakan secara apik oleh kuartet yang terdiri atas Alan Paul, Janis Siegel, Tim Hauser dan Cheryl Bentyne.
Dibuka dengan karya Bobby Troup "Route '66" yang pertamakali dipopulerkan The Nat King Cole Trio di tahun 1946. Yang menarik adalah "balancing" antara harmoni vokal The Manhattan Transfer dengan tata orkestra yang memang terasa "penuh". Kenapa saya sebut "balance" ?, karena baik tata arransemen vokal memang sudah penuh dan harus diiringi pula dengan orkestra yang memang padat bunyi-bunyian. Kesalahan dalam menata bunyi-bunyian kedua divisi (vokal dan orjkestra) bisa berakibat fatal. Entah akan ada yang ketilep atau malah saling tumpang tindih. Untunglah kekisruhan yang semacam itu nyaris tak ditemui dalam 12 track dalam album ini.
Dan untunglah dalam musik jazz kita mengenal upaya dari Jon Hendricks, vokalis jazz yang sering menulis sederet lirik untuk lagu-lagu yang awalnya hanya ditulis dalam bentuk instrumentalia seperti lagu "Birdland" yang aslinya adalah komposisi instrumental karya Joseph Zawinul dalam album Weather Report. Juga komposisi jazz bertajuk "Clouds (Nuage)" karya gitaris jazz gipsy Django Reinhardt menjadi lebih hidup setelah diimbuh lirik oleh Jon Hendricks. Atau lagu "To You" yang merupakan karya instrumental pianis Thad Jones dan diberi lirik pula oleh Hendricks. Yang pasti dengan imbuhan lirik,harmoni vokal The Manhattan Transfer yang menguatkan karakter lagu itu sendiri menjadi kian mencuat ke permukaan. Apalagi karya-karya jazz itu sebetulnya sudah pernah dibawakan The Manhattan Transfer pada album-album sebelumnya semisal "To You" yang terdapat pada album "Vocalese" (1985) maupun "Birdland" di album " Extensions" (1979) .
Selain komposisi standar seperti karya George Gershwin hingga Charlie Parker, The Manhattan Transfer pun menyajikan dengan elegan komposisi bertajuk "Vibratew" (ini lagu tentang cinta dan ponsel...) karya Rufus Wainwright , pemusik era sekarang dari album solonya "Want One" di tahun 2003.
Jika ingin menyimak sajian paling apik dari kuartet jazz vokal,maka album ini harus anda simak seutuhnya.
TRACKLIST
1. ROUTE 66
2. CANDY
3. EMBRACEABLE YOU
4. THAT'S THE WAY IT GOES
5. A NIGHTANGLE SANG
6. BECAUSE YOU ARE ALL HEART (MOVEMENT 2,PORTRAIT OF ELLA)
7. TO YOU
8. VIBRATE
9. CLOUD (NUAGES)
10. THE QUITUDE
11. THE OFFBEAT OF AVENUES
12. BIRDLAND
Denny Sakrie
0818417357
http://musicalbox. jdfi.co.id/n
Senin, Desember 25, 2006
Sonic Youth - The Destroyed Room : B-Sides & Rarities

JUDUL ALBUM : THE DESTROYED ROOM : B-SIDES & RARITIES
ARTIS : SONIC YOUTH
LABEL : GEFFEN RECORDS
TAHUN : 2006
Kalau anda bukan penggemar Sonic Youth sebaiknya jangan memutar album ini. Kuping anda akan terteror dalam arti sesungguhnya. Tapi jika anda penggemar Sonic Youth, menyimak album ini, wajib hukumnya. Terutama untuk anda yang ingin menelaah lebih jauh proses penggarapan lagu-lagu dari grup "art-punk" asal New York ini. Karena 11 track yang ada di album ini merupakan B Sides dari beberapa cakram tunggal Sonic Youth dan yang masuk kategori "rarities". Jika sebelumnya beberapa track di album ini menjadi perbincangan karena sulit dicari plaat single-nya. Misalnya, "Razor Blade" yang merupakan sisi B dari lagu "Bull In The Heather" atau "Campfire" yang berasal dari "At Home With The Groovebox" serta beberapa track dari "Noho Furniture" sessions. Maka dahaga ini akan pupus jika menyimak album ini.
Album ini memang dipenuhi dengan aneka outtakes dari kurun waktu 1994 hingga 2004 dalam durasi sekitar 70 menitan. Sudah pasti atmosfer "jamming" lekat dalam sajian mereka track by track. Dalam liner notes nya tertulis "blurring the lines betweens compositions and improvisation". Jadi nggak heran jika album yang cenderung "cutting edge" ini dikuakkan oleh sebuah track instrumental berdurasi 10 menitan bertajuk "Fire Engine Dream" dan ditutup dengan sebuah epic berdurasi sekitar 26 menit "Diamond Sea". Dengan pelbagai anasir bunyi-bunyian yang ditaruh pada latar depan maupun latar belakang menjadikan beberapa komposisi di album ini seolah menjadi "music score". Simaklah "Loop-Cat" yang kental nuansa jammin'nya maupun "Campfire" impulsif.
Dari 11 track yang termaktub disini, hanya 3 track yang memiliki lirik/vokal, selebihnya sebuah perjalanan panjang dengan instrumental. Makanya, jika anda tidak memahami konsep Sonic Youth, menjauhlah. Sebaliknya jika anda die-hard fans, pasanglah kuping anda erat-erat di cd player anda.....nikmati petualangan bunyi yang menakjubkan dari Sonic Youth.....!
TRACKLIST
1. FIRE ENGINE DREAM
2. FAUXHEMIANS
3. RAZOR BLADE
4. BLINK
5. CAMPFIRE
6. LOOP CAT
7. KIM'S CHORDS
8. BEAUTIFUL PLATEAU
9. THREE PART SECTIONAL SEAT
10. QUEEN ANNE CHAIR
11. DIAMOND SEA
Kamis, Desember 21, 2006
Mike Stern - Who Let The Cats Out?

JUDUL ALBUM : WHO LET'S THE CAT OUT ?
Rabu, Desember 20, 2006
Andi Rianto - Interlude Dari Hati
ARTIS : ANDI RIANTO
LABEL : WARNER MUSIC
TAHUN : 2006
PRODUSER : ANDI RIANTO
Komposer dan pianis Andi Rianto melepas sebuah album solo bertajuk "Interlude dari Hati". Lembut, manis dan romantis itulah kesan yang mencuat jika anda menyimak album ini. Jalinan melodi yang diciptakan Andi Rianto memang berkonotasi lembut, melodius dan memercik romantik. Apa boleh buat jika album ini sangat terasa "perempuan". Aransemen lagu-lagu di album ini memang menampilkan nuansa orkestral pop yang kuat. Permainan piano Andi pun sangat mengakomodir nada-nada dari melodi keseluruhan lagunya.
Ada 4 vokalis yang membawakan karya-karya Andi Rianto yaitu Ira Batti, Farman Purnama, Anissa dan Lucky Octavian. Kesemuanya memiliki kemampuan vokal diatas rata-rata. Dan mereka memang sangat pas untuk menyuarakan sederet balada yang ditulis oleh Andi Rianto berikut kontribusi lirik dari Monty Tiwa hingga Sekar Ayu Asmara. Yang pantas dicatat bahwa idiom penulisan lirik meski tetap bersentuhan dengan asmara, memiliki atmosfer dan pengungkapan yang takberkesan massal melainkan mahal. Dalam "Tak Kembali" yang dinyanyikan Farman Purnama terdengar sedekit sentuhan klasikal dari struktur melodi. Penghayatan yang kuat dilakukan Farman yang mengingatkan kita pada Josh Groban, misalnya.
Tak hanya itu, Andi Rianto yang didukung Melbourne Symphony Orchestra ini pun menulis karya-karya instrumental semisal "Padre & I", "Tak Kembali" dan "Bee". Kesan yang mencuat bahwa karya instrumental ini terdengar seperti music score buta film-film layar lebar. Sayangnya dinamika dan mood lagu ini terdengar dalam intensitas yang sama : mellow. Jadi tak heran jika album ini lebih pas untuk menjadi soundtrack bagi pasangan yang tengah mabuk kepayang.
TRACK LIST
1.PERNAH
2.PEMERAN PENGGANTI
3.TAK KEMBALI
4.DUNIA
5.MATAHARIKU
6.SEUTUHNYA CINTA
7.DUNIA TANPA MU
8.PADRE & I
9.TAK KEMBALI
10.BEE
Denny Sakrie
0818417357
http://musicalbox. jdfi.co.id/ n
Kamis, Desember 14, 2006
Sarah McLachlan - Wintersong

JUDUL ALBUM: WINTERSONG
ARTIS: SARAH MCLACHLAN
LABEL: ARISTA/SONY BMG
TAHUN: 2006
Ingin menyimak suasana Natal dengan atmosferik yang agak berbeda. Maka pastikan menyimak album "Wintersong" milik penyanyi Sarah McLachlan. Bahkan album ini justeru ditampilkan dengan nuansa yang lebih gelap,nyaris melankolik dan lebih ke suasana bulan Desember yang bertaburan salju dimana-mana. Ini diperkuat oleh sentuhan orkestrasi yang ditata oleh Jeremy Lubbock. Bahkan pianis Diana Krall pun menyumbangkan permainan pianonya yang bening di beberapa lagu di album ini.
Selain menampilkan lagu-lagu standar menyambut Natal seperti : "Silent Night", "Have Yourself A Merry Little Christmas" atau "O Little Town Of Betlehem", Sarah malah mengadopsi sederet lagu-lagu pop bernuansa Natal seperti "Happy X'Mas (War Is Over)" milik John Lennon & Plastic Ono Band dengan lirik yang bertendensi ke situasi politik era 70-an yang menganjurkan perdamaian. Sebuah lagu yang rasanya masih relevan dengan kondisi dunia saat sekarang ini. Sarah pun memilih lagu milik Joni Mitchell "River" yang menempatkan Natal sebagai nuansa.Simak liriknya :
It's coming on Christmas,they' re cutting down trees
They're putting up reindeer
And singing songs of joy and peace
Oh I wish I had a river
I could skate away on
But it don't snow here........
McLachlan pun membawakan lagu "Songs For Winter Night" yang ditulis dan dinyanyikan penyanyi folk Kanada Gordon Lightfoot pada soundtrack album "Miracle On 34th Street" (1994).
Sarah pun tetap mempertahankan ekspresi bernyanyinya seperti biasanya : reflektif,lebih gelap dan dalam. Simaklah tiupan trumpet yang disumbat atau paduan suara kanak-kanak yang berkesan innocence dan angelic. Tata aransemen semacam inilah, yang membedakan album Sarah McLachlan dengan album-album Christmas lainnya yang menjamur di bulan Desember ini.
TRACK LIST
1. HAPPY X'MAS (WAR IS OVER)
2. WHAT CHILD IS THIS ? (GREENSLEEVES)
3. RIVER
4. WINTERSONG
5. I'LL BE HOME FOR CHRISTMAS
6. O LITTLE TOWN OF BETLEHEM
7. THE FIRST NOEL/MARY MARY
8. SILENT NIGHT
9. SONG FOR A WINTER NIGHT
10. HAVE YOURSELF A MERRY LITTLE CHRISTMAS
11. IN THE BLEAK MID-WINTER
12. CHRISTMAS TIME IS HERE
Denny Sakrie
0818417357
http://musicalbox. jdfi.co.id/ n
Rabu, Desember 13, 2006
Chris Botti - December

JUDUL ALBUM: DECEMBER
ARTIS: CHRIS BOTTI
LABEL: SONY BMG
TAHUN: 2006
Empat tahun yang silam,trumpetis bertampang keren Chris Botti merilis album bertajuk "December" yang bernuansa Christmas. Tahun ini album tersebut di rilis ulang dengan menempatkan 2 lagu baru yaitu "Ave Maria" karya Schuberts dan "I Really Don't Want Much For Christmas". Di lagu yang terakhir, Chris Botti mengetengahkan vokal Eric Bennet yang smooth, silky dan soulful.
Pada "Ave Maria" Botti memang harus merelakan embel-embel jazz-nya. Namun di komposisi ini Botti justeru tampil khidmat dengan dukungan London Session Orchestra serta paduan suara yang harmonis dari St Jon's Choir. Bayangkan penampilan tiupan Botti dilatari genangan vokal paduan suara yang warmly.
Tampaknya di album ini Botti memang banyak menahan diri. Ia tahu dan sadar bahwa permainan trumpetnya didengarkan oleh banyak kalangan yang sudah pasti tidak segmented. Kompromistis tanpa harus mengurangi nilai sajian musiknya.
Sebuah sajian yang tepat menemani anda yang tengah menikmati suasana libur di bulan Desember yang sejuk.
TRACK LIST
1. CHRISTMAS SONGS
2. AVE MARIA
3. WINTER WONDERLAND
4. THE FIRST NOEL
5. LET IT SNOW LET IT SNOW LET IT SNOW
6. HALLELUJAH
7. I REALLY DON'T WANT MUCH FOR CHRISTMAS
8. HAVE YOURSELF A MERRY CHRISTMAS
9. SANTA CLAUS IS COMING TO TOWN
10. SILENT NIGHT
11. LITTLE DRUMMER BOY
12. O LITTLE TOWN OF BETLEHEM
13. I'LL BE HOME FOR CHRSITMAS
Denny Sakrie
0818417357
http://musicalbox. jdfi.co.id/ n
Senin, Desember 11, 2006
E.S.T. - Viaticum

JUDUL ALBUM : VIATICUM
ARTIS : E.S.T
LABEL : 215/ACT
TAHUN : 2005
Bukan.....bukan !!. Svensson, Stenson & Gustavsen bukan sebuah law-firm. Mereka bertiga adalah sebuah trio jazz dari Swedia. Tepatnya Esbjorn Svensson Trio yang menyingkat namanya menjadi E.S.T. Mereka telah merilis 9 album. Trio Nordic ini banyak dipengaruhi oleh pola permainan pianis Keith Jarrett. Mungkin karena Esjborn Svensonn memang sangat terobsesi dengan Keith Jarrett. Tapi sejauh menghasilkan 9 album, rasanya grup yang akan manggung di Jakarta pada januari 2007 ini akhirnya memiliki karakteristik tersendiri.
Bagi yang telah menyimak album terakhirnya bertajuk "Viaticum" rasanya setuju jika saya mendiskripsikan album ini semacam Jazz Meets Psychedelic atau Jazz Meets Rock. Atau lebih spesifik lagi Radiohead meet Keith Jarrett. Pilihan untuk melakukan "cross-over" yang dilakukan E.S.T bisa jadi merupakan solusi yang jitu. Terutama bagi penikmat musik yang ingin mendengarkan jazz dalam kategori "rookie" atau pemula. Dan bagi yang ingin menikmati keseluruhan diskografi E.S.T, maka saran saya simaklah dulu album "Viaticum" ini baru mundur ke 8 album E.S.T sebelumnya. Karena di album ini ada sedikit sentuhan funk yang berpadu dengan genangan vintage organ yang sering kita temui pada genre classic-rock. Simaklah komposisi bertajuk "The Tail Of Her Eye" dengan aksentuasi yang bernas dari drummer Magnum Ostorms. Energetik memang !. Sesekali ada atmosfer Brazil misalnya pada komposisi "The Well-Wisher". Atau simaklah " The Unstable Table and The Infamous Fable" yang sarat dengan birama yang "surprising".
Trio ini memang bermain dengan pendekatan pola trio yang purist tapi diimbuh dengan angle-angle yang tak terduga misalnya tiba-tiba mencuat sepoles anasir country atau euro-pop yang khas. Kompleksitas musik di album ke 9 E.S.T ini mungkin lebih merupakan upaya agar penikmatnya bisa mencerna sajian trio-jazz mereka. Makanya jangan lupa mencicipi "Tide Of Tripedation", "The Well-Wisher", "Eighty- Eight Days In My Veins" atau "Viaticum" yang menjadi tajuk album ini. Pada album "Viaticum" E.S.T terdiri atas Esbjorn Svensson dan Dan Berglund (double bass) dan Magnum Ostorms (drum) .
TRACK LIST
1.TIDE OF TRIPEDATION
2.EIGHTY-EIGHTS DAYS IN MY VEINS
3.THE WELL-WISHER
4.THE UNSTABLE TABLE & THE INFAMOUS FABLE
5.VIATICUM
6.IN THE TAIL OF HER EYE
7.LETTER FROM THE LEAVIATHAN
8.A PICTURE OF DORIS TRAVELLING WITH BORIS
9.WHAT THOUGH THE WAY MAY BE LONG
Thanks for Mr Chico Hindarto for the CD......!
Denny Sakrie
0818417357
http://musicalbox. jdfi.co.id/ n
Neil Young - Living With War

JUDUL ALBUM: LIVING WITH WAR
ARTIS: NEIL YOUNG
LABEL: REPRISE
TAHUN: 2006
PRODUSER: NIKO BOLAS
Boleh jadi Neil Young adalah pemusik protes yang konsisten dari era ke era. Young tetap sensitif. Young tetap care terhadap pelbagai masalah dan konflik dunia. Pendeknya, Neil Young tetap "marah" dan "marah". Itu pun juga tercermin pada album terakhirnya "Living With The War", Hanya dengan membaca tajuk albumnya, kita pun sudah bisa mereka kemana arah dan visi album Neil Young. Gamblang, lugas, tanpa tedeng aling-aling.......itu yang mencuat dari barisan lirik-lirik lagu yang ditulis Neil Young. Dan George W Bush pun jadi "bulan-bulanan" Neil Young. Simaklah "Living With The War", "The Restless Consumer", "Lookin' for A Leader" atau "Let's Impeach The President". Coba kita lihat lirik "Let's Impeach The President " :
Letis impeach the president for spying
On citizens inside their own homes
Breaking every law in the country
By tapping our computers and telephones
What if Al Qaeda blew up the leeves
Juga simak lirik lagu "Living With The War" :
I'm living with the war everyday
I'm living with the war in my heart
I'm living with the war in my heart and mind
I'm living with war right now
Atau simak pula lirik "Lookin' for a leader":
Lookin for a leader,
to bring our country home
reunite the red white and blue
Before it turns to stone
Dan begitulah,Neil Young bersikukuh mengkritik George W Bush. Meskipun demikian Neil Young memang tak lantas terjerembab pada pola "sarkastik", ia masih menggurat tata musik yang terkendali. Terkadang elemen kegeraman cukup diwakili dengan strumming gitar. Atau riff-riff yang memancing pendengarnya untuk introspektif. Dan begitulah, disaat pemusik-pemusik seangkatannya lebih banyak bertutur tentang menikmati hari tua, cinta, lingkungan atau yang lainnya. Neil Young masih sarat energi dengan musik-musik protes-nya. Tanpa rasa lelah.........!
TRACK LIST
1. AFTER THE GARDEN
2. LIVING WITH WAR
3. THE RESTLESS CONSUMER
4. SHOCK AND AWE
5. FAMILIES
6. FLAGS OF FREEDOM
7. LET'S IMPEACH THE PRESIDENT
8. LOOKIN' FOR A LEADER
9. ROGER AND OUT
10. AMERICA THE BEAUTIFUL
Denny Sakrie
0818417357
http://musicalbox. jdfi.co.id/ n